'Ikrar Lembah Kembar', sebagai penanda komitmen organisasi sebagai organisasi pembinaan generasi muda.


YEPE yang telah berdiri sejak hampir 46 tahun yang lalu terus mengalami pasang surut sebagai sebuah organisasi. Sempat dikatakan berjaya di era 70 - 90 'an, lalu mengalami krisis keanggotaan di era 2000 'an. Hingga saat ini, organisasi yang mendedikasikan diri sebagai pembinaan generasi muda masih terus berusaha bertahan dan bangkit kembali. Berusaha tetap bertahan dengan slogan 'setia pada kata dan perbuatan'.

Sempat dicap sebagai organisasi 'eksklusif' dan sombong di sebagian kalangan penggiat alam kota Malang, YEPE juga terus berusaha membuka diri dan menyingkirkan stigma tersebut. Dengan beberapa cara seperti Anjangsana dan hadir dalam beberapa momen Dies Natalis organisasi yang serupa, kami mencoba membaur. Meskipun pada akhirnya terkendala sebuah 'budaya' yang tetap tidak bisa kami berikan toleransi, pada akhirnya kami hanya bisa maklum dan menghormati apa yang sudah menjadi kebiasaan dan tradisi bagi mereka.

Bukan kami munafik dengan tradisi 'minum' yang sudah jadi rahasia umum kalangan penggiat alam. Kami hanya mencoba konsisten dengan apa yang menjadi wilayah perjuangan kami, yakni, "menjadi organisasi pembinaan generasi muda dengan alam sebagai medianya", yang di dalamnya termasuk pendidikan karakter dan juga menjauhkan generasi muda dari hal-hal yang bersifat negatif dalam kacamata masyarakat umum.

Tidak dipungkiri, Beberapa anggota kami memang ada yang menjadi pelaku tradisi 'minuman perekat persaudaraan' itu. Bahkan sebagian anggota kami disebut sebagai 'The Drunken Master'. Namun, hal tersebut hanya kami serahkan sebagai hak pribadi, tidak pernah kami izinkan saat berada dalam lingkup kegiatan resmi organisasi. Beruntungnya, sebagian besar anggota kami sungguh bijak bisa menempatkan diri dalam situasi dan keadaan.

Ternyata, apa yang berusaha kami perjuangkan tidak hanya mendapat gejolak dari luar, bahkan lebih kencang berasal dari dalam. Sempat membuat kami terdiam dan hampir melangkah mundur, namun apa yang sudah kami ikrarkan sejak 5 November 1978 itu membuat kami tetap bertahan dengan pendirian. Bila memang pada akhirnya dikucilkan, demi sebuah perjuangan membentuk generasi muda menjadi insan yang lebih baik dan positif, pantang bagi kami menyurutkan layar yang terkembang.

We Shall Overcome! YEPE!

oleh: Ghulam Al Aufa/YP-270-MA

Jelang Basic Training (Batra) YEPE ke-29, banyak hal yang sedang kami siapkan. Batra kali ini akan menguras tenaga dan pikiran dalam skala yang lebih besar. Meskipun pelaksanaan dilakukan pada Agustus 2015, tim Badan Khusus Batra (Bakusba)sudah terbentuk sejak Januari lalu. Setiap minggunya, selalu ada koordinasi terkait pematangan konsep baik prinsip maupun teknis.

    Tim Bakusba terdiri dari 7 orang. Diantaranya adalah: Choirul Anwar YP-221-KR (Koordinator), Pradata “Data” Guntoro YP-173-KR, Hani Azzahra YP-219-GG, Ekak Kurniawan YP-224-CL, Andy D. Astama YP236-PA, Isna Zulfa YP-253-BA dan Fachry Prasetya YP-269-MA. Perbedaan kuantitas Bakusba kali ini memang didasarkan pada kebutuhan pergerakan tim yang lebih efektif. Mengingat evaluasi dari Batra sebelumnya, ketika Bakusba hanya dipegang oleh satu orang, kewalahan dan susahnya fokus dalam mengemban tugas sebagai konseptor Batra selalu menjadi momok. Tim Bakusba bertanggung jawab atas konsep Batra 29 mulai dari pemilihan materi, pemateri, nilai-nilai yang akan ditanamkan pada siswa Batra, dan semuanya. Sedangkan hal teknis nantinya akan dibantu oleh segenap anggota YEPE yang ada, mulai dari generasi pertama hingga penggiat terkini.

    Perbedaan yang cukup mencolok pada Batra 29 dibandingkan dengan Batra sebelumnya adalah target siswa yang mencapai 40 orang dan durasi pelatihan yang bisa mencapai 14 hari lamanya. Ketika dulu materi ruang yang dilakukan hari sabtu dan minggu dan materi aplikasi lapangan dilaksanakan setelahnya, maka, kali ini semua materi ruang dan materi aplikasi yang cukup banyak dijadikan dalam satu rangkaian. Ada juga satu materi lapangan yang baru akan kami aplikasikan di Batra 29, apa itu? Masih kami simpan sebagai kejutan. Sampai sekarang, apa yang sedang kami susun dan rencanakan masih bersifat dinamis dan masih sangat mungkin terjadi perubahan, terutama dalam hal teknis.

    Hal ini kami lakukan demi meningkatkan kualitas sebuah pendidikan alam terbuka bagi para calon penggiat muda. Tantangan lebih besar memang datang, bahkan dari sejak koordinasi pertama hal itu sudah mulai muncul. Hal itu tidak menyurutkan semangat kami demi hal yang lebih baik. Selalu ada progress dibalik datangnya sebuah tantangan, kami yakini hal itu.

We Shall Overcome! YEPE!



Oleh : Palla-La (YP-273-MA)

      Bagiku mendaki gunung bukan hanya kegiatan bersifat “have fun”, namun lebih dari itu. Mendaki gunung adalah suatu proses pendidikan, mematangkan diri, serta mengenal lebih jauh arti dan tujuan dari kehidupan.

Pun beberapa hari lagi, di usiaku yang akan segera memasuki seperempat abad aku ingin merenungi kembali kehidupan yang sudah kujalani. Sungguh, aku tak menginginkan perayaan dengan balon-balon maupun tiupan lilin. Yang kuinginkan hanya berbaur dengan semesta, bertafakkur kembali tentang hidup yang sudah dan akan kujalani nantinya.

Aku berencana akan melakukan pendakian ke Gunung Singgalang, salah satu gunung yang cukup terkenal di Sumatera Barat. Sebenarnya rencana akan pendakian ini sudah kusiapkan dari jauh hari, namun rencana itu menjadi tidak mulus karena semua orang yang kuajak tiba-tiba saya membatalkan keikutsertaan mereka tanpa sebab. Hanya tersisa aku seorang.

Jujur saja, aku masih merasa belum berani untuk melakukan pendakian solo ke Gunung Singgalang itu. Jadilah beberapa hari sebelum pendakian kucari teman yang berkeinginan mendaki gunung yang sama melalui jejaring sosial. Akhirnya ada empat orang  yang mengkonfirmasi keikutsertaan dalam pendakian kali ini.
Kami sepakat untuk bertemu di Pasar Koto Baru pada tanggal 17 Oktober pukul 20.00 Wib. Koto Baru memang seringkali dijadikan meeting point bagi pendaki, sebelum melakukan pendakian ke Gunung Marapi maupun Singgalang.

Mengingat tidak adanya angkutan dari rumahku menuju Pasar Koto Baru di malam hari, akupun memutuskan untuk berangkat dari rumah sore hari, menaiki bus antarkota Payakumbuh-Padang dengan membayar ongkos Rp.10.000. Sekitar pukul 16.00 aku sudah tiba disana, sedangkan teman-teman anggota Tim yang lain belum ada yang muncul satupun, karena memang aku datang lebih awal dari jadwal yang disepakati. Aku menunggu mereka di sebuah toko outdoor.

***
    Tak lama kemudian hujanpun turun dengan derasnya, di luar sana langit terlihat sangat kelam. Sepertinya hujan ini bukan hanya di sekitar Koto Baru, feelingku mengatakan bahwa hujan ini merata di seantero Sumatera Barat.

Dan benar saja, beberapa saat kemudian HP ku berdering. Dua orang teman yang berangkat dari Padang meminta izin atas keterlambatan mereka karena dihadang hujan di tengah jalan. Begitupun satu orang lagi dari Pariaman, belum berangkat karena hujan masih deras disana. Jadilah aku menunggu sendirian.

Sekitar pukul 21.00 belum juga ada kabar dan tanda akan kedatangan mereka, akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dari toko outdoor ini karena merasa sungkan menumpang terlalu lama. Aku menuju sebuah masjid yang tak jauh dari jalan raya. Ternyata pintu masjid terkunci, sehingga aku harus menggelar matras dan sleeping bag di beranda masjid yang sedikit basah dan lembab terkena rembesan air hujan. Aku berusaha tidur, menghemat tenaga untuk pendakian esok hari.

Sekitar pukul 01.00 Wib dini hari, aku terbangun mendengar suara motor mendekat, ternyata satu orang teman sudah datang dari Pariaman. Yogi namanya.

“Istirahat dulu aja bro, kita jalan besok pagi aja”, ujarku padanya. Kami mengobrol sebentar dan kemudian aku berencana kembali melanjutkan tidurku. Namun beberapa saat kemudian satu motor lagi datang mendekati pekarangan masjid. Aku bisa langsung menebak, mereka adalah dua orang teman dari Padang, Yayan dan Syahrial yang akan ikut mendaki besama kami esok hari.



Badan mereka sedikit basah, karena melewati hujan di tengah jalan. Setelah teman-temanku membereskan diri, kamipun beristirahat bersama-sama di beranda masjid. Mengumpulkan tenaga untuk mendaki.

Kami terbangun saat masyarakat setempat berdatangan ke masjid untuk menunaikan ibadah shalat subuh, kamipun ikut serta shalat berjamaah. Usai shalat kami bersiap-siap, menata ulang kembali alat-alat pendakian dan memasak makanan untuk sarapan.

Semuanya sudah siap, namun masih ada satu orang lagi yang belum tiba, yaitu Ramadan yang datang dari luar kota, Pekanbaru. Ia datang jauh-jauh untuk mendaki bersama kami. Syukur ia datang tepat ketika kami tengah sarapan, dan kamipun makan bersama.

***
18 Oktober 2014, kami meneruskan perjalanan dengan mengendarai motor menuju desa Pandai Sikek, sekitar 20 menit dari Pasar Koto baru tadi. Kami tiba di pos perizinan Gunung Singgalang, menuliskan nama dan membayar Rp. 5.000 untuk setiap orangnya. Perjalanan dengan motor belum berakhir, selanjutnya medan jalan yang dilalui adalah tanjakan-tanjakan tajam. 30 menit kami butuhkan untuk tiba di titik awal untuk berjalan kaki, yaitu tower RCTI. Disinilah motor kami tinggalkan.

Pukul 09.00 Wib kami memulai pendakian dari tower ini, biasanya dari sini Gunung Marapi terlihat kokoh berdiri. Namun berhubung kabut asap tengah melanda kampung kami akibat kebakaran hutan di kampung tetangga, jadilah tiada pemandangan yang bisa memanjakan mata.

Sebelum mendaki kami tak lupa berdoa bersama, agar selalu dilindungi oleh Sang Pencipta. Adapun anggota Tim adalah (Rahman, Yogi, Yayan, Syahrial, Ramadan). Medan yang kami lalui pertama adalah hutan pimpiang, tumbuhan yang mirip seperti bambu-bambu kecil, sehingga kami harus sering-sering merunduk dibuatnya, bahkan terkadang merayap. Setengah jam melalui hutan pimpiang dengan jalan yang lumayan menanjak, karena di Gunung Singgalang memang bisa dibilang tak ada jalan landainya. Akhirnya kami tiba di mata air 1, disinilah kami berhenti sejenak, kembali mengatur nafas.




Setelah puas beristirahat kamipun melanjutkan perjalanan, jalan setelah mata air 1 sesekali masih berupa tumbuhan pimpiang. 40 Menit kemudian kami tiba di mata air 2, di Gunung Singgalang sumber air tergolong banyak, mata air 2 berupa sungai kecil yang lebih mirip seperti air terjun. Kami tak lupa mengabadikan moment ini. Mengambil photo pemandangan yang memang sangat indah.




Perjalanan dilanjutkan. Sekitar 20 menit berjalan, Syahrial yang berada paling depan bertanya, “jalannya yang mana ni?”, memang jalan di depan terlihat bercabang. Tapi aku tahu ujung dari jalan itu adalah sama saja. sebuah petunjuk arah memberi aba-aba ke kiri, melalui jalan basah dan berlumpur. Sedangkan jalan yang bagus adalah jalur kanan, secara logika tentu saja kami memilih jalur kanan, lebih jelas dan bagus.
Tiba-tiba saja Syahriah berteriak kecil, sembari meringis kesakitan.

“lebaaaaah”, ujarnya. Sontak kami semua kaget, ingin rasanya berlari. Namun kami sadar jika berlari pasti lebah-lebah itu akan terus mengejar. Akhirnya secara spontan kami diam dan menenangkan diri, seolah menjadi patung. Namun tetap saja lebah-lebah itu menyengat tanpa ampun. Pelan-pelan kami berjalan mundur, menjauhi sarangnya.

Syahrial yang paling banyak terkena sengatan lebah, mungkin lebih dari sepuluh. Setelah menimbang dan melihat kondisi Syahrial akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan, karena Syahrial yakin kondisinya masih aman. Kami berjalan sesuai petunjuk arah, mengambil jalan kiri yang basah dan belumpur.
Jalan selanjutnya adalah tanjakan-tanjakan yang dikelilingi oleh hutan basah. Di Singgalang tak ada pos-pos sehingga menyulitkan kita untuk estimasi dari jarak satu tempat ke tempat lain, karena patokan pos tidak ada.





Aku tak menghitung lagi sudah berapa lama kami berjalan, Namun ketika di depan terlihat secercah cahaya matahari aku tahu perjalanan tidak akan lama lagi, sebentar lagi akan tiba di cadas Gunung Singgalang. Sekitar pukul 14.30 kami tiba di cadas Gunung Singgalang. Memang waktu yang agak lama, karena kami berjalan sangat santai, ditambah lagi dengan tragedi disengat lebah tadi. Kami beristirahat sejenak disini.

Di atas cadas ini terdapat sebuah monument, Tugu Galapagos. Prasasti yang menandakan adanya orang hilang. Adapun dari cadas menuju Telaga Dewi membutuhkan waktu sekitar 1 jam perjalanan, diawali dengan jalan menanjaki cadas. Selanjutnya tanjakan-tanjakan ringan melewati hutan yang berlumut.

Satu jam kemudian, Telaga dewi sudah terbentang di depan kami. Ternyata kami Tim kedua yang tiba disini. Seseorang berteriak dari sisi lain Telaga Dewi, mengajak kami untuk camp bersama.

Ternyata mereka adalah Erik dan kawan-kawan, seseorang yang juga sudah lama kukenal di dunia maya (facebook), namun ini kali pertama kami bersua. Kami mendirikan tenda bersebelahan dengan tenda Erik. Malam harinya kami habiskan waktu untuk bercengkrama di pinggir api unggun. Erik dan kawan-kawan menyuguhi kami gorengan bakwan yang dibuatnya sendiri.




Di malam haripun masih ada beberapa Tim yang berdatangan, dan hampir semua dari mereka juga mengeluh karena tersengat lebah.

***
Keesokan harinya, 19 Oktober 2014. Sekitar pukul 10.00 Wib kami turun bersama-sama, dan tiba di tower RCTI sekitar pukul 13.30 Wib.

Kamipun melanjutkan perjalanan, pulang ke rumah masing-masing.

====    ====    ====

Estimasi biaya

Transport Bukittinggi – Koto Baru                 : Rp. 5.000
Koto Baru – Tower Singgalang                      : ( Efektif bawa motor sendiri)
                                                                           Ojek Rp 50.000
                                                                           Sewa angkot muat banyak Rp. 150.000
Registrasi                                                        : Rp. 5.000

Estimasi Waktu
Bukittingi – Koto Baru                                   : 40 menit
Koto Baru – Tower Singgalang                      : 1 Jam

Tower  – Telaga Dewi                                     : (Standart 5-6 jam)
Jelang usianya yang ke 45, YEPE akan melaksanakan rangkaian peringatan Dies Natalis YEPE ke-45. Rangkaian tersebut berupa pengibaran bendera Pataka di puncak Mahameru sebelum tanggal 1 November 2014 dan juga temu kangen anggota, kerabat dan simpatisan yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 15-16 November 2014.

          Tema kali ini adalah “45 Tahun Langkah Penuh Syukur”. Makna dari tema ini adalah untuk mengajak semua anggota YEPE mensyukuri segala capaian pahit manis organisasi. Dengan bersyukur, kita akan mengambil masa lalu sebagai pelajaran berharga namun tidak untuk terus diratapi. Apa yang kita dapatkan sekarang senantiasa dirawat dan terus melakukan perbaikan-perbaikan. Untuk masa depan, kita bangun rencana-rencana bersama, mewujudkan kegiatan yang lebih produktif, dan dengan kualitas yang lebih baik. Dengan bersyukur, kita tinggalkan segala sifat tinggi hati dan menyadari organisasi ini masih mempunyai kelemahan. Namun, juga tidak kecil hati/minder, karena organisasi ini punya potensi luar biasa untuk menjadi organisasi yang berjaya dan bisa mencapai cita-citanya sesuai dengan ikrar dan deklarasi yang telah dicanangkan sedari dulu.

          Pada akhirnya, kegiatan Dies Natalis ini adalah sebuah momen untuk introspeksi dan kembali merancang kegiatan-kegiatan yang mempu memfasilitasi para generasi muda ke arah yang lebih positif serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan negara.

Selamat Ulang Tahun YEPE yang ke 45. We Shall Overcome!


Oleh: YP-270-MA


Berawal dari ngobrol guyon di Metro 15 malam itu, acara ini terlaksana juga. Malam itu kita guyon perkara ini tiga organisasi kok perlu ngadain kemah bersama, siapa tau ada kesempatan buat pedekate buat para jomblowan jomblowati antar organisasi.

Metro 15 sebagai sekretariat dihuni oleh tiga organisasi, yakni, YEPE, Encompass Indonesia dan Teater Komunitas. nah, berawal dari guyon itu, sekalian saja dijadikan momen pengakraban tiga organisasi yang bernaung di rumah yang sama.



Pantai Nganteb menjadi pilihan. Selain akses menuju lokasi yang cukup mudah, suasana juga masih relatif sepi dibandingkan dengan pantai lain di Malang. Pantainya masih lebih bersih, meski areanya tidak seluas balekambang.

Kami hanya menginap satu malam. Peralatan yang kami bawa juga tidak terlalu banyak untuk ukuran kemping 30 orang, atau saking kami sudah terbiasa dengan manjemen alat berbau kemping. Semua elemen dari tiga organisasi itu dilibatkan dalam persiapan acara ini.

Acara ini menjadi lebih terasa produktif ketika om Bei, praktisi teater, turut membagikan ilmunya tentang olah gerak dan penghayatan yang biasa ada di dalam teater yang dikemas dalam sebuah workshop singkat.

Acara cukup dirusak dengan datangnya rombongan para bapak-bapak yang mabuk sambil memutar musik koplo dengan sound system yang kencang sepanjang malam. Serius, itu sangat menganggu bagi pengunjung lain, apalagi bagi yang mencari ketenangan setelah rutinitas yang melelahkan di keramaian kota.

Secara keseluruhan, acara berjalan lancar dan semua bisa ceria.... karena kita adalah Keluarga :)